Total Pageviews

Tuesday, September 27, 2016

Indeks Glikemiks Beras

Indeks glikemik (IG, glycemic index) adalah ukuran seberapa besar efek suatu pangan kaya karbohidrat dalam meningkatkan kadar gula darah setelah dikonsumsi, dibandingkan dengan glukosa. Semakin tinggi nilai IG suatu pangan maka makin cepat pangan tersebut meningkatkan kadar gula darah. Pangan dengan nilai IG di atas 70 diklasifikasikan sebagai IG tinggi, pangan dengan IG dari 56-69 sebagai IG sedang, dan makanan yang IG-nya sama atau lebih rendah dari 55 diklasifikasikan sebagai pangan IG rendah.

Beras dapat mempunyai nilai IG yang berbeda. Salah satu faktor yang berperan terhadap nilai IG dari beras adalah kadar amilosanya. Secara umum, beras dengan amilosa tinggi memiliki IG yang rendah. Varietas dengan kadar amilosa tinggi dan nilai IG rendah adalah beras IR36, Logawa, Batang Lembang, Cisokan, Margasari, dan Air Tenggulang (Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, Subang).

Walaupun secara umum kadar amilosa tinggi akan memiliki nilai IG yang rendah, pernyataan ini tidak selalu benar. Sebagai contoh, beras varietas Batang Piaman dan Ciliwung memiliki kadar amilosa yang tinggi tetapi nilai IG-nya juga tinggi. Ada pula beras yang kadar amilosanya sedang tetapi memiliki nilai IG yang tinggi, contohnya beras varietas Ciherang.


Pengelompokan beras berdasarkan kandungan amilosanya:

  • Beras ketan, kadar amilosa kurang dari 10%
  • Beras beramilosa rendah, kadar amilosa 10-20%
  • Beras beramilosa sedang, kadar amilosa 20-25%
  • Beras beramilosa tinggi, kadar amilosa lebih dari 25%



Apa penyebab perbedaan tekstur nasi?

Elvira Syamsir

Tahukah anda? Pati beras mengandung amilosa dan amilopektin dalam rasio berbeda. Perbedaan rasio amilosa dan amilopektin di dalam beras, menyebabkan tekstur nasi yang dihasilkan akan berbeda. Beras dengan kandungan amilosa yang tinggi akan menghasilkan nasi dengan tekstur yang pera dan keras. Sebaliknya, jika kandungan amilopektin yang lebih tinggi, maka tekstur nasi akan menjadi pulen dan lengket.

Karedok

Info pangan singkat - pangan lokal

Karedok. Makanan ini khas daerah Sunda. Dibuat dari campuran berbagai sayuran mentah (potongan kacang panjang muda, irisan kol putih, toge, potongan terong, timun dan daun semanggi) yang disiram dengan bumbu ulek (terbuat dari kacang tanah yang ditambahkan dengan cabe rawit, kencur, bawang putih, terasi dan air asam jawa). Aroma wangi kencur menutup aroma langu khas sayuran mentah.

Thursday, September 15, 2016

Bentuk dan Nama Kemasan dari Daun Pisang

Mungkin banyak diantara kita pernah melihat makanan yang dikemas dengan daun, terutama daun pisang. Beberapa bentuk kemasan daun pisang tsb umum dijumpai sementara bentuk yang lainnya mulai jarang dijumpai, tergantikan oleh kemasan modern.




Ada banyak bentuk kemasan yang dibuat dari daun pisang, seperti dapat dilihat pada foto di atas. Berikut nama dari kemasan tersebut:
1. Pinjung
2. Samir
3. Pincuk
4. Takir
5. Sudi
6. Sumpil
7. Tum
8. Pelang/tempelang.

Ada yang anda kenal? Saya sendiri hanya kenal bentuknya dan kenal satu-dua nama. Baru tahu namanya secara lengkap setelah dapat informasi ini... Kayanya leluhur kita ya...

~foto dan nama kemasan dari WA Group.

Mengenal Jenis-jenis Daun Pembungkus Makanan

Oleh Hasballah (diambil dari Jitunews.com)

Daun tidak hanya berfungsi untuk membungkus, tetapi juga penambah aroma dan cita rasa.

Ketika akan mengolah makanan yang di bungkus daun, anda mungkin sering bingung daun mana yang cocok digunakan sesuai dengan jenis makanan tersebut. Karena itu, kami akan membahas jenis-jenis daun untuk pembungkus makanan anda.

1. Daun jati. 
Jati adalah pohon penghasil kayu bermutu tinggi. Pohon besar berbatang lurus, dapat tumbuh mencapai tinggi 30-40m dan berdaun besar. Daun jati dapat dimanfaatkan menjadi pembungkus makanan, seperti nasi jamblang yang terkenal dari daerah Jamblang, Cirebon. Nasi yang dibungkus dengan daun jati rasanya akan lebih nikmat dan wangi serta dapat membuat makanan tersebut tahan lama. Daun jati juga dapat dimanfaatkan sebagai pembungkus tempe yang banyak digunakan di daerah Yogyakarta, Jawa Tengah dan Jawa Timur ataupun sebagai pembungkus jenang (dodol). Daun jati untuk pembungkus makanan yang paling baik adalah daun yang masih muda karena lebih ulet dan tidak mudah sobek.

2. Daun pisang. 
Daun pisang dipercaya sebagai pembungkus alami yang sangat serbaguna dan relatif sangat mudah ditemukan. Daun pisang dapat digunakan sebagai pembungkus lemper, jongkong, tempe, nagasari, nasi kebuli bakar, dan klepon. Daun pisang akan menjadi semakin kuat dan elastis jika daun pisang terlebih dahulu dipanaskan di atas api kecil sehingga daun menjadi layu. Selain mudah dilipat, daun pisang ini juga mudah dibersihkan dengan hanya mengelap permukaan daun dengan kain lap. Namun, tidak semua daun pisang baik digunakan untuk pembungkus makanan. Daun pisang yang cocok digunakan yaitu daun pisang raja, daun pisang batu dan daun pisang kepok. Selain daun pisang tersebut maka makanan yang dihasilkan/ dibungkus akan berwarna kehitaman.

3. Daun kelapa (janur). 
Daun kelapa sangat cocok untuk membungkus makanan. Daun kelapa yang sangat cocok digunakan adalah daun kelapa yang masih muda. Untuk menjaga kesegaran dapat disimpan ditempat yang sejuk selama sehari. Contoh makanan yang dapat dibungkus dengan daun kelapa yaitu, clorot, ketupat, dumbeg (makanan khas kota Rembang, Jawa Tengah yang terbuat dari tepung nasi yang diberi bumbu gula kelapa dan bentuknya kerucut,red), legondo (masakan khas kota Gede, Jogjakarta terbuat dari ketan dengan isian daging cincang,red), dan lapet ketan

4. Daun mangkokan 
Daun mangkokan sangat familiar di Indonesia karena bentuknya yang unik seperti mangkok. Daun mangkokan ini tersebar di seluruh Indonesia mulai dari Sumatera hingga Papua. Tak heran daun mangkokan memiliki nama khas di setiap daerah. Sebut saja daun mamanukan di daerah Sunda, godong mangkokan didaerah Jawa, daun papeda di daerah Ambon dan papua, mangko-mangko didaerah Makasar dan pohon mangkok di daerah Sumatera. Karena bentuknya seperti mangkok, sering dijadikan tempat makanan atau membungkus makanan di beberapa daerah seperti, bubur sagu, pepes dan pecel sayuran. Gunakan daun mangkokan yang masih muda, berwarna hijau segar dan urat daun terlihat jelas agar dapat memberikan aroma yang khas serta dapat menghilangkan bau amis saat memasak pepes ikan.

5. Daun jambu biji. 
Jambu biji merupakan tanaman tropis yang berasal dari Brazil dan disebarkan melalui Thailand ke Indonesia. Daun jambu biji yang bermanfaat untuk berbagai penyakit dapat juga digunakan sebagai pembungkus makanan. Saat ini digunakan terutama dalam pembuatan tape Garut yang dapat memberikan warna hijau alami dan untuk membungkus nasi Jamblang. Pilih daun jambu biji yang sudah tua, sebaiknya gunakan daun yang baru dipetik agar hasil makanan yang dibungkus dapat memberikan warna yang bagus pada makanan.

6. Daun ganyong. 
Ganyong adalah tanaman umbi-umbian yang dapat dimakan dan kebanyakan digunakan sebagai makanan cadangan. Tumbuh subur di daerah Jawa dan Sumatera. Di Jawa dikenal dengan nama ganyong ataupun tasbeh, sedangkan di Sumatera dikenal dengan nama ubi pikul. Bentuk daunnya menyirip panjang seperti daun pisang, berwarna hijau, namun ujung daunnya berwarna hijau keunguan. Daun ganyong dapat digunakan sebagai pembungkus makanan, seperti papais (makanan yang berasal dari Subang, Jawa Barat terbuat dari tepung ganyong dengan isian gula merah ditengahnya,red) dan tape.

7. Daun bambu. 
Bambu adalah tanaman jenis rumput-rumputan yang mempunyai batang berongga dan beruas-ruas. Daun bambu biasa dipakai untuk membungkus makanan seperti, bakcang, kue gambir (Dodol khas Bali), tempe, dan lupis. Gunakan daun bambu yang lebar, memanjang (semua jenis bambu). Sebelum digunakan sebagai pembungkus, sebaiknya daun bambu dicuci untuk menghilangkan kotoran atau debu yang menempel. Setelah itu gunting pangkal daun agar memudahkan untuk membungkus makanan, dan terakhir direbus dahulu dalam air mendidih hingga layu dan bulu-bulu halus halusnya juga layu.

8. Daun klobot (daun pembungkus buah jagung). 
Selain jagung yang berfungsi sebagai sumber karbohidrat dan makanan pokok, daun pembungkus jagung juga memiliki fungsi sebagai pembungkus makanan seperti angling (makanan tradisional dari Kuningan, Jawa Barat yang terbuat dari singkong), botok dan wajik.

9. Daun talas. 
Talas merupakan tumbuhan penghasil umbi-umbian yang tumbuh sepanjang tahun. Daun talas berbentuk seperti perisai besar, sangat cocok digunakan sebagai pembungkus makanan. Misalnya untuk membungkus tape di daerah Sumatera Utara dan nasi bungkus di daerah Sumatera Utara. Sebaiknya pilih daun talas yang sudah tua, dan memiliki diameter yang panjang sekitar 15-20 cm, agar makanan yang dibungkus tidak tumpah.

10. Daun pandan. 
Daun pandan adalah tumbuhan yang memiliki daun beraroma wangi yang khas. Daunnya merupakan komponen penting dalam tradisi masakan Indonesia dan negara Asia Tenggara lainnya. Daun pandan memberikan aroma yang khas pada makanan, sehingga sangat cocok digunakan dalam pembuatan kue, dan pewarna makanan. Daun pandan cocok digunakan sebagai pembungkus makanan seperti lupis, ketupat, kue lampu-lampu atau papaco dari Sulawesi. Daun pandan yang baik digunakan untuk pembungkus makanan adalah daun pandan yang jenisnya besar dan lebar sekitar 5-8 cm. Disimpan dengan cara membungkus dengan koran di dalam lemari pendingin yang diletakkan pada rak penyimpanan buah atau sayur.

Wednesday, September 7, 2016

Apa Sih Tanggal Kadaluarsa Itu?

Oleh Ann Pietrangelo, diterjemahkan oleh Hasim
(diambil dari Blog: Hasim's Space)

APAKAH Anda termasuk orang yang suka membuang minuman susu pada tanggal kadaluarsanya?

Tanggal kadaluarsa bagi produk makanan bisa melindungi kesehatan konsumen, tetapi tanggal kadaluarsa itu lebih mengenai kualitas makanan tersebut daripada soal keamanan untuk dikonsumsi.  Dan jika tidak dipahami secara layak, tanggal itu bisa membuat para konsumen membuang makanan yang sebenarnya masih aman untuk dimakan.

Sebuah poling terbaru terhadap lebih dari 2.000 orang dewasa menunjukkan bahwa kebanyakan dari kita membuang makanan yang kita yakini tidak aman dimakan, hal ini bagus, tentu saja, tetapi penting pula untuk dipahami apa arti tanggal kadaluarsa yang ada pada makanan sebelum kita melempar makanan tersebut—dan uang kita—ke kotak sampah. Rata-rata di A.S. orang membuang sekitar 14% dari makanan yang mereka beli setiap tahunnya. Rata-rata keluarga Amerika yang terdiri dari empat orang membuang makanan senilai sekitar $600 setiap tahunnya.

Lima makanan apa saja yang paling ditakuti tidak aman setelah tanggal kadaluarsa yang tercetak? Menurut ShelfLifeAdvice.com, makanan yang paling kita paling takuti setelah tanggal kadaluarsa adalah susu, keju cottage (cottage cheese), mayonnaise, yogurt, dan telur, dan situs tersebut memberi penjelasan yang bermanfaat seperti di bawah ini:
  • Susu: Jika didinginkan dengan layak, akan tetap aman, bergizi, dan lezat kira-kira seminggu setelah tanggal kadaluarsa dan kemungkinan akan tetap aman diminum lebih lama lagi, meskipun ada penurunan dalam nilai nutrsisi dan rasanya.
  • Cottage cheese: Cottage cheese yang dipasteurisasi bisa bertahan 10-14 hari setelah tanggal kadaluarsa yang tertera.
  • Mayonnaise: Dalam keadaan tidak dibuka, mayonnaise yang didinginkan bisa disimpan 30 hari setelah tanggal kadaluarsa.
  • Yogurt: Yogurt akan tetap baik 7-10 hari setelah tanggal masa berlakunya.
  • Telur: Telur yang didinginkan dengan benar seharusnya bertahan 3-5 minggu setelah tanggal masa berlakunya penjualan (sell-by date), menurut Profesor Joe Regenstein, seorang ilmuwan makanan dari Cornell University. Catatan: penggunaan tanggal penjualan (sell-by date) atau tanggal kadaluarsa (expiration date) bukanlah merupakan persyaratan federal, di A.S., tetapi boleh jadi merupakan persyaratan negara bagian, seperti yang tercantum dalam hukum tentang telur di negara bagian di mana telur tersebut dipasarkan.

Tanggal “Baik Digunakan Sebelum” (The “Use-By” Date)
Tanggal “gunakan sebelum” atau “baik digunakan sebelum” yang tercantum pada makanan menunjukkan tanggal terakhir makanan tersebut berada pada kualitas terbaiknya dalam hal-hal yang menyangkut seperti rasa, tekstur, penampilan, bau, dan kandungan gizi. Penurunan kualitas setelah tanggal tersebut terjadi secara gradual. Tanggal berlaku seperti ini digunakan untuk produk-produk makanan yang belum dibuka.

Tanggal “Masa Jual” (The “Sell-By” Date)
Tanggal “Masa Jual” (“sell by” date) bukanlah menyangkut keamanan makanan, tetapi merupakan sebuah catatan bahwa produk tersebut harus diturunkan dari rak penjualan karena kualitasnya akan menurun setelah tanggal tersebut.

Penyakit Bawaan Makanan
Kontamisasi silang dan kondisi yang tidak sehat adalah penyebab utama timbulnya penyakit bawaan makanan, apakah di rumah atau di restoran, dan hal ini tidak ada hubungannya dengan penanggalan kadaluarsa. Kesalahan utamanya adalah:
  • Tidak mencuci tangan dengan benar sebelum menyiapkan makanan.
  • Menyimpan makanan pada temperatur yang salah.
  • Memasak makanan tidak mencapai temperatur yang cukup.
  • Kontaminasi silang (daging mentah bercampur dengan salads, misalnya)
  • Makanan segar tidak dicuci dengan benar.

Faktor “Wuih”: Akal Sehat dalam hal Kemanan Makanan
Terlepas dari ada tidaknya tanggal kadaluarsa, jika sebuah makanan tampak apek atau berjamur atau jika berbau dan terlihat seperti rusak, maka jangan ambil resiko. Jika makanan tersebut membuat Anda berkata, “wuih,” buanglah segera.