Total Pageviews

Saturday, April 2, 2011

Berkah Sinar Matahari untuk Tulang

Website: http://www.majalah-farmacia.com

Pajanan sinar matahari merupakan pilihan yang baik dan murah untuk meningkatkan dan mempertahankan status vitamin D perempuan lanjut usia Indonesia

Alam semesta menyediakan berbagai macam obat untuk beragam penyakit. Salah satunya matahari. Dengan energinya yang sangat besar, matahari menyimpan sumber vitamin D yang terkait denagn berbagai penyakit seperti osteoporosis. DR. Dr. Siti Setiati, SpPD.,KGer., MEpid membuktikan hal ini. Kekurangan vitamin D, khususnya pada perempuan usia lanjut Indonesia, dapat diatasi dengan melakukan pemajanan sinar matahari .

Setiati memaparkan penemuannya dalam bentuk bentuk disertasi yang berjudul "Pengaruh Pajanan Sinar Ultraviolet B Bersumber dari Sinar Matahari terhadap Kadar Vitamin D (25(OH)D) dan Hormon Paratiroid pada Perempuan Usia Lanjut Indonesia". Di balik panasnya yang mampu membakar, matahari telah 'mengantarkan' Setiati meraih gelar doktor dalam Ilmu Epidemiologi Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia. 

Berbagai permasalahan pada perempuan usia lanjut memotivasi Setiati untuk melakukan penelitian terkait dengan kondisi klinik golongan usia lanjut tersebut. Salah satu masalah yang kerap menghampiri adalah adanya osteoporosis dan fraktur osteoporosis pada sistem muskuloskletal. Osteoporosis dalam disertasi Setiati didefinisikan sebagai suatu penyakit yang ditandai oleh berkurangnya massa tulang dan mikroarsitektur jaringan tulang, sehingga meningkatkan fragilitas tulang dan risiko terjadinya fraktur.

"Penyebab osteoporosis melibatkan banyak factor seperti genetik, keturunan, dan faktor lingkungan," kata Setiati. Faktor nutrisi seperti vitamin D, kalsium, dan protein juga turut berperan dalam terjadinya penyakit pada tulang ini.

Vitamin D adalah vitamin larut lemak yang dibutuhkan untuk berbagai proses metabolisme di dalam tubuh. Metabolit aktif vitamin D yaitu 25(OH)2D3, fungsi utamanya adalah mengontrol absorpsi kalsium dan fosfat usus agar dapat mempertahankan konsentrasi kalsium darah hingga mineralisasi tulang tetap terpelihara. Kondisi defisiensi vitamin D akan berpengaruh pada homeostatis ini. Kekurangan vitamin D akan meningkatkan hormon paratiroid (parathyroid hormone, PTH) sehingga terjadi resorpsi tulang yang akan meningkatkan risiko terjadinya fraktur. "Defisiensi vitamin D juga akan menurunkan massa otot dan miopati yang mengakibatkan terjadinya instabilitas postural dan memudahkan terjadinya jatuh," ujar dokter kelahiran Bandung ini.

"Perubahan fungsi organ pada perempuan usia lanjut yang terlibat pada proses sintesis 25(OH)D mempengaruhi terjadinya defisiensi vitamin D," kata Setiati. Selain itu, faktor lain yang juga turut mempengaruhi adalah gaya hidup yang cenderung menghindari sinar matahari dan rendahnya asupan makanan. 

Sumber Vitamin D Gratis

Setiati menambahkan, kekurangan vitamin D pada usia lanjut dapat diatasi dengan memberikan suplementasi atau fortifikasi makanan. Namun, "Pemberian suplmentasi vitamin D, pengayaan makanan dengan vitamin D, atau pemberian tablet atau injeksi vitamin D untuk mencegah defisiensi vitamin D akan sulit dilaksanakan mengingat biaya yang dikeluarkan akan besar. Hal itu juga akan sulit menjangkau penduduk di berbagai pelosok tanah air," ujarnya.

Sinar matahari menjadi alternatif yang seharusnya dijadikan sumber perhatian. Terlebih Indonesia berada di daerah khatulistiwa yang menerima curahan sinar matahari sepanjang tahun. "Pajanan sinar matahari merupakan pilihan yang baik dan murah untuk meningkatkan dan mempertahankan status vitamin D perempuan lanjut usia Indonesia," ujar ibu dari Andika Pratama dan Arief Dimas Dwiputro ini. Sayangnya, belum ada satu penelitian pun yang menganalisa mengenai sumber vitamin D yang berasal dari UVB matahari.

Berpijak pada kenyataan bahwa sinar matahari merupakan sumber alamiah vitamin D yang tersedia melimpah, Setiati memulai penelitian dengan menggunakan sumber alam 'gratis' ini. Namun fakta bahwa bahwa sintesis vitamin D di kulit umumnya menurun akibat penuaan dan banyaknya melanin di kulit, membuat Setiati mengawali risetnya dengan pertanyaan besar, apakah sinar UVB yang berasal dari matahari dapat digunakan untuk meningkatkan konsentrasi vitamin D (25(OH)D) dan menurunkan hormon paratiroid (PTH) pada perempuan usia lanjut di Indonesia?

Pertanyaan lain yang juga muncul adalah pada pukul berapa sebaiknya seseorang dipajan sinar matahari agar efektif meningkatkan konsentrasi 25(OH)D.

Penelitian dilakukan dengan melibatkan 74 subyek perempuan berusia 60 hingga 90 tahun di 4 panti werda di Jakarta dan Bekasi. Subyek dengan gangguan fungsi hati dan ginjal yang berat dan ditemukan adanya lesi pra dan kanker kulit dikeluarkan dari penelitian. Dengan alokasi random, populasi dibagi menjadi 2 kelompok, yakni yang mendapat pajanan UVB dari sinar atahari selama 6 minggu dan yang tidak mendapatkan pajanan sinar matahari.

Responden pada kelompok yang mendapat pajanan, memajankan wajah dan kedua lengan di bawah sinar matahari dengan menggunakan kacamata hitam. Kegiatan dilakukan selama bulan Februari hingga Maret 2005. "Kegiatan yang dilakukan bersifar rekreatif agar responden tidak bosan dan tanpa terasa waktu berlalu," kata Setiati.

Jangan Takut Berjemur

Hasilnya, menghasilkan kesimpulan bahwa perempuan Indonesia agar jangan takut berjemur. Kelompok perempuan usia lanjut yang dipajan dengan sinar UVB matahari mengalami peningkatan konsentrasi 25(OH)D lebih tinggi dibandingkan kelompok perempuan usia lanjut yang tidak dipajan.

Dari penelitian didapatkan data sebesar 35,1 persen perempuan usia lanjut di panti wreda mengalami defisiensi vitamin D ringan. "Pada kelompok yang mengalami defisiensi 25(OH)D, pemajanan sinar matahari UVB matahari meningkatkan konsentrasi 25(OH)D secara bermakna dibandingkan kelompok yang tidak dipajan (51,8% vs 12,5%)," ujar Staf Medik Penyakit Dalam divisi Geriatri ini.

Kelompok yang memiliki konsentrasi 25(OH)D<50 nmol/L (defisiensi), ternyata mengalami peningkatan konsentrasi 25(OH)D lebih tinggi disbanding kelompok yang memiliki konsentrasi normal (77% vs 31,6%). Meski demikian, konsentrasi PTH pada kelompok yang mengalami defisinsi hanya menurun sedikit.

Kapan dan berapa lama harus berjemur? Hasil penelitian Setiati mengungkapkan bahwa intensitas UVB sinar matahari lebih rendah pada pukul 07.00 pagi, meningkat pada jam-jam berikutnya hingga pukul 11.00. Setelah itu intensitas relative stabil dan tinggi hingga pukul 14.00 untuk kemudian menurun. Pada pukul 16.00 mencapai intensitas yang sama dengan pukul 07.00. Waktu pajanan yang dibutuhkan pada intensitas 1 MED/jam adalah 15 menit. Jika dilakukan pada pukul 11.00 hingga 13.00 waktu pemajanan akan lebih singkat. Namun jika dilakukan lebih pagi, misalnya pukul 09.00 maka waktu pemajanan akan lebih lama yaitu kira-kira selama 25 menit.

Penelitian yang dilakukan Setiati, saat ini adalah satu-satunya yang menganalisa sumber vitamin D dari UVB sinar matahari. Ke depannya, ia berharap perlu adanya penelitian lebih lanjut yang membandingkan pengaruh pajanan sinar matahari dan suplementasi vitamin D pada konsentrasi 25(OH)D, PTH, kekuatan otot, dan densitas massa tulang.

"Selain itu, perlu population based study untuk mempelajari status kecukupan konsentrasi 25(OH)D dan kalsium pada populasi perempuan usia lanjut dan penelitian yang mempertimbangkan lokasi geografis, cuaca, dan musim," ujar Setiati yang mendapatka gelar doktor dengan predikat cum laude. (Ika)